Sabtu, 04 Agustus 2012

Dilema Komunitas-Komunitas Musik Yang Berakhir Mengenaskan


Pertengahan tahun 90 an sampai sekarang, sudah banyak komunitas-komunitas musik di Jambi yang tumbuh dan hilang silih berganti. Dilema utama dari Komunitas-komunitas musik ini biasanya selalu berakhir dengan perpecahan, seperti perubahan sudut pandang, kepentingan, cinta (he…3x) hingga ekonomi. Mengapa hal ini terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat dulu apa sih komunitas itu, apa peran komunitas, apakah komunitas merupakan suatu profesi, lalu profesi kita yang sebenarnya apa? Komunitaskah atau musisi? Seberapa penting keberadaan komunitas itu sendiri?

Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa.Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak" (http://id.wikipedia.org/wiki/Komunitas). Komunitas juga secara harfiah diartikan sebagai masyarakat yang memiliki arti sama dengan pengertian komunitas di atas. Walaupun banyak definisi mengenai komunitas atau masyarakat itu sendiri, secara garis besar definisi-definisi tersebut akan selalu memuat “ kelompok” (lebih dari satu individu) dan memiliki “kesamaan”.
Dilihat dari definisi di atas, komunitas difungsikan sebagai wadah untuk menampung individu-individu yang memiliki “kesamaan”. Diharapkan dengan mempunyai wadah tersebut, individu-individu yang tergabung di dalamnya dapat bekerja sama lebih intens untuk mencapai tujuan. Kita perlu garis bawahi kata “kesamaan” dan “tujuan” di sini adalah keterwakilan berbagai hal yang tidak sama dari berbagai individu dalam komunitas tersebut. Jadi tidak ada satu komunitas pun yang dapat mewakili semua yang ada pada individu anggota komunitasnya. Di sini kita sering salah kaprah beranggapan komunitas mewakili seluruh apa yang ada dalam individu anggota komunitas tersebut. Sehingga semua yang dilakukan harus sama, contohnya harus sama-sama hitam, menyukai perempuan yang sama (wkwkwkwkkw….bercanda), harus memainkan aliran musik yang sama, kemudian muncul kelas-kelas berdasarkan jenis musik yang dimainkan.
Ada satu analogi yang menarik, “ada sebuah komunitas ‘jadi selebritis’, lalu semua anggotanya punya tujuan yang sama ingin jadi selebritis. Komunitas tersebut beranggotakan lebih dari 100 orang, bagi pemula dikenakan wajib pajak Rp. 100.000,-. Diharapkan kalo anggotanya sudah jadi selebritis dapat menyumbang lebih”. Pertanyaannya apakah semua anggota komunitas itu akan jadi selebritis? Kita dapat melihat sebuah kemustahilan yang sangat jelas dari komunitas tersebut.  Ada contoh riil dari sebuah komunitas musik yang pernah berdiri di Jambi. Komunitas tersebut membuat manajemen yang justru diatur oleh individu, sehingga anggotanya untuk job manggung hingga manggung gratisan harus mendapat izin dari individu tersebut. Inilah kesalahan besar dalam memposisikan komunitas, kita harus ingat tidak ada satu definisipun yang mengatakan komunitas adalah alat untuk mencapai tujuan, tetapi komunitas sebagai wadah untuk individu-individu yang mempunyai kesamaan tertentu. Pencapaian tujuan haruslah datang dari individu-individu dalam komunitas tersebut salah satunya melalui karya, sebab karya lebih kepada individu-individu di dalamnya dan menjadi besar disebabkan ada kesamaan tertentu dari karya-karya yang dihasilkan oleh individu-individu tersebut.
Bila komunitas didefinisikan sebagai alat untuk mencapai tujuan, maka yang akan terjadi adalah komunitas yang bicaranya lebih banyak dibandingkan karyanya, komunitas yang lebih mementingkan uniform sebagai identitas, komunitas yang tidak lebih dari Multi Level Marketing. Kita sebagai individu sah-sah saja untuk mencari keuntungan dari komunitas-komunitas tersebut. Selama tidak mengganggu dari tujuan utama komunitas, sebab kita juga harus mengakui bahwa tidak semua yang ada pada diri kita sebagai individu dapat terwakilkan semua dalam komunitas tersebut. Ini menandakan kita ini adalah mahluk individu dan akan bersosialisasi bila ada kepentingan yang harus melibatkan individu lain. Ingat! Tidak setiap saat kita menjadi mahluk sosial.

By
Ray Franandes